Sabtu, 09 April 2011

BIOGRAFI HARTOJO ANDANGDJAJA

Hartojo Andangdjaja

H
artojo Andangdjaja adalah penyair kerakyatan yang ikut serta mencetuskan Manifes Kebudayaan tahun 1963. Dia dilahirkan pada tanggal 4 Juli 1930 di kota Solo, Jawa Tengah, dan meninggal di kota yang sama pada usia 60 tahun, tepatnya tanggal 30 Agustus 1990. Pendidikan dasar dan menengah Hartojo di lingkungan sekolah-sekolah Islam Muhammadiyah Surakarta. Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, pada pagi hari Hartojo masuk ke sekolah umum, sementara pada sore harinya dia masuk pula ke madrasah yang khusus mengajarkan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan agama Islam. Pendidikan terakhir Hartojo adalah dari Muallimin Muhammadiyah Solo, yang kemudian nama sekolah ini berubah menjadi Sekolah Guru Muhammadiyah Solo, sejajar dengan PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), jurusan Bahasa Indonesia, dan dia tamat dari sekolah guru itu pada tahun 1953. Pendidikan Hartojo tersendat-sendat akibat penjajahan Jepang dan Perang Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia
            Setamatnya dari sekolah guru di Solo, Hartojo bertugas mengajar di beberapa sekolah swasta SLTP dan SMU di Solo (1953–1956). Sambil mengajar di sekolah swasta itu Hartojo mengajukan lamaran menjadi guru pegawai negeri. Lamarannya pun akhirnya diterima dan Hartojo ditugaskan menjadi guru SLTP Negeri Pasaman, Padang, Sumatera Barat. Mengingat gaji guru terlalu kecil, sambil mengajar di SLTP Negeri itu Harojo mengajukan pula lamaran ke SMU Negeri Simpang Empat, Pasaman, Sumatera Barat, sebagai tenaga guru honorer (1957–1962). Di tempat perantauan itu Hartojo menumpang tinggal pada rumah Direktur (kepala sekolah) SLTP tempat dia mengajar yang terletak tidak jauh dari sekolahan tempatnya mengajar.

Ketika terjadi peristiwa PRRI Permesta awal tahun 1960-an di Sumatera Barat, membuat hidup Hartojo menjadi kocar-kacir. Hartojo dituduh berpihak pada republik sehingga merasa sudah tidak lagi aman tinggal di ranah Minang. Dia harus menyelamatkan diri meninggalkan tanah Minang. Tanpa sempat mengurus kepindahan tugas mengajarnya, Hartojo pun tergesa-gesa harus meninggalkan kedua sekolahan di Minang itu. Hartojo tidak langsung pulang ke Solo, melainkan memilih singgah dan bekerja di Jakarta bergabung dengan majalah Si Kuntjung. Bersama rekan-rekan seniman yang lainnya, pada tahun 1963 Hartojo ikut mencetuskan dan menandatangani Manifes Kebudayaan. Setelah terjadi pelarangan Manifes Kebudayaan pada tahun 1964, hidup Hartojo kembali terancam “diganyang” oleh Lekra-PKI yang anti-Manifes. Dia meninggalkan sumber nafkahnya Si Kuntjung dan kemudian mudik ke kampung halamannya, Tegalkembang, Laweyan, Solo. Setelah peristiwa G30S/PKI usai, barulah Hartojo kembali mendapat pekerjaan sebagai guru di STN (Sekolah Teknik Negeri) Kartasura dan SLTP Batik Solo. Penderitaan hidup Hartojo sebagai seorang guru ditulis dalam sajaknya “Dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya” (dimuat dalam majalah Cerpen Tahun I Nomor 7, 1967), yang berkisah tentang kemelaratan seorang guru akibat kecilnya gaji yang diterima.
Hartojo mulai menulis sejak duduk di bangku sekolah menengah di Solo. Mula-mula tulisan Hartojo dimuat dalam majalah Pantja Raya pada akhir tahun 1940-an. Kemudian pada tahun 1950-an tulisan-tulisan Hartojo mulai menghiasi majalah-majalah lokal dan nasional, seperti Kisah, Tjitra, Seniman, Revolusi Pemuda, Madyantara, Arena, Pembangoenan, Merpati, dan Mimbar Indonesia. Tidak berhenti pada majalah-majalah itu saja, tulisan-tulisan Hartojo pun segera mengalir ke majalah Basis, Horison, Budaya Jaya, Sastra, Cerpen, Warna Sari, Tempo, Si Kuntjung, Relung Pustaka, dan beberapa surat kabar lainnya, antara lain, KAMI, Pos Minggu, Kompas, Haluan, dan Sinar Harapan.
Selain sebagai penulis puisi dan esai, Hartojo tercatat pula sebagai redaktur beberapa majalah, antara lain, Merpati (Solo, 1948), Tjitra (Solo, 1952–1954), Si Kuntjung (Jakarta, 1962–1964), Madyantara (Solo, 1974), dan Relung Pustaka (Solo, 1970-an). Ketika masih berada di Solo, Hartojo bersama D.S. Moeljanto pernah pula memimpin ruang seni dan sastra “Simposium” dalam majalah Dwiwarna (1953–1954). Selain bergerak di bidang tulis-menulis, Hartojo pun pernah mencoba bekerja di perusahaan swasta di Solo hingga tahun 1972. Karena perusahaan tempatnya bekerja itu macet, Hartojo pun berhenti bekerja di perusahaan itu tanpa mendapat pesangon. Dia kemudian pindah bekerja di perusahaan batik, namun jenis pekerjaan ini pun tidak sesuai dengan cita-cita dan harapannya. Setelah mencoba menekuni pekerjaan lain di luar bidang tulis menulis, dan semuanya tidak ada yang cocok, Hartojo sejak tahun 1976 memutuskan untuk menekuni karirnya di bidang penulisan esai dan penerjemahan. Sebagai seorang partikeliran atau swasta, beliau cukup tinggal di rumahnya, bahu-membahu dengan istrinya, sambil sesekali mengunjungi perpustakaan dan toko buku, ke kantor pos mengirimkan karya-karyanya ke berbagai majalah, surat kabar, dan penerbitan, serta mengambil wesel honororium tulisannya. Menjelang akhir hayatnya, Hartojo sering sakit-sakitan, digerogoti asma-bronchitis. Dalam kondisi yang sakit-sakitan itu dia beruntung selalu ditemani oleh istri dan kedua anaknya yang sudah menjelang dewasa, Haris Wijayanto dan Fitri Wijayanti, sampai Hartojo menghembuskan napasnya yang terkahir tahun 1990.
            Meskipun Hartojo Andangdjaja mulai menulis pada zaman Jepang, tahun 1940-an, dalam sejarah sastra Indonesia tak seorang pun memasukkan Hartojo sebagai sastrawan Angkatan 45. Ajip Rosidi dalam bukunya Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969) memasukkan Hartojo sebagai penyair Angkatan Terbaru atau Angkatan 1950-an. Sementara itu, H.B. Jassin dalam buku Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968) memasukkan Hartojo sebagai penyair Angkatan 66. Pengelompokan seorang penulis, termasuk Hartojo, menjadi anggota atau pelopor angkatan sastra ini tidak mengikat. Itu hanya sebagai catatan sejarah dan sangat bergantung siapa yang menulis buku tersebut. 
            Selain menulis puisi, Hartojo pun mencoba menulis cerita pendek dan karya drama. Namun, dibidang genre puisilah bakat dan minatnya berkembang subur. Sebagai seorang penyair, Hartojo telah menghasilkan ratusan puisi yang tersebar dalam berbagai majalah dan surat kabar, baik lokal maupun nasional. Selain itu, beberapa puisi Hartojo pernah menghiasi beberapa buku antologi, antara lain dalam buku Simponi Puisi (Solo, 1954, antologi puisi bersama DS. Moeljanto), Manifestasi (antologi puisi bersama Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, dan lain-lain, 1963), Angkatan 66: Prosa dan Puisi (susunan H,B. Jassin, 1968), Laut Biru Langit Biru (susunan Ajip Rosidi, 1977), Tonggak 2: Antologi Puisi Indonesia Modern (susunan Linus Suryadi A.G., 1987), Dari Fansuri ke Handyani (susunan Taufiq Ismail dkk, 2001), dan Horison Sastra Indonesia 1 Kitab Puisi (susunan Taufiq Ismail dkk, 2002). Beberapa puisi Hartojo pun pernah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing dan terbit di Amerika dan Jepang. Satu-satunya buku kumpulan puisi tunggal yang dimiliki Hartojo adalah Buku Puisi (1973) yang memuat sebanyak 36 sajak dan diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya atas prakarsa Ajip Rosidi.
 Hartojo pernah memenangkan hadiah dari majalah Sastra asuhan H.B. Jassin atas tulisan esainya yang bertajuk “Pola-Pola Pantun dalam Persajakan Modern” (dimuat dalam majalah Sastra Nomor 6 Tahun II, 1962, hlm. 31–34). Esai Hartojo yang sangat menarik ini kemudian dimuat pula dalam buku Sejumlah Masalah Sastra (1982) susunan Satyagraha Hoerip (Jakarta: Sinar Harapan), dan dimuat pula dalam buku Dari Sunyi ke Bunyi: Kumpulan Esai Tentang Puisi (1991) dengan pengantar Goenawan Mohamad (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti). Sebagai seorang penulis esai, Hartojo dikenal sebagai esais tentang puisi yang tangguh dan handal pada zamannya. Pengetahuannya tentang puisi cukup luas dan tidak terbatas pada puisi-puisi nasional kita. Beberapa puisi hasil dari para penyair Belanda, Italia, Inggris, Jerman, Spanyol, Perancis, Arab, India, dan Jepang dia bahas dan terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penulisan esai puisi dan terjemahan tentang puisi-puisi dunia itu menandakan minat dan bakat Hartojo di bidang puisi sangat kuat
Goenawan Mohamad dalam kata pengantar buku Dari Sunyi ke Bunyi yang memuat esai-esai Hartojo itu memberi komentar: “Hartojo Andangdjaja adalah salah satu penyair Indonesia yang dengan segera dapat diketahui mutunya justru melalui esai-esainya. Dia menulis sajak sejak akhir tahun 1940-an. Dia lebih dikenal sebagai penyair. Namun, bagi saya telaahnya tentang puisi, pemikiran dan pendapatnya tentang itu, merupakan model lucidity (susunan yang tidak terlampau urut, terang, dan padu) yang dalam kesusastraan Indonesia modern pada masanya hanya ditemukan dalam tulisan Sutan Takdir Alisyahbana dan Asrul Sani (setelah Hartojo Andangdjaja, nama yang harus disebut di sini agaknya ialah Sapardi Djoko Damono). Kekhususan Hartojo ialah bahwa dia sepenuhnya memikir puisi, dan tidak nampak mempunyai ambisi untuk menulis pelbagai hal lain di luar itu dengan gagasan-gagasan besar. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa gayanya–-yang bukan saja jernih, tetapi juga merupakan suatu gelombang kalimat yang teratur–-menunjukkan bahwa dia memang seseorang yang menulis dengan puisi terngiang-ngiang di kepalanya terus-menerus.”
Komentar Goenawan atas esai-esai Hartojo tersebut tampaknya tidak berlebihan. Hartojo memang bergulat secara terus-menerus dengan puisi-puisinya. Penetapan buku kumpulan esai Hartojo Andangdjaja Dari Sunyi Ke Bunyi sebagai pemenang buku terbaik bidang humaniora oleh Yayasan Buku Utama pada tahun 1994 menunjukkan bahwa komentar Goenawan Mohamad tersebut tidaklah berlebihan. Satu hal yang menarik dari esai-esai tersebut adalah Hartojo menceritakan sendiri tiga buah puisi terkenalnya, yaitu “Golgotha, Sebuah Pesan”, “Rakyat”, dan “Buat Saudara Kandung”, tentang proses kreatifnya menciptakan sajak-sajak tersebut. Ketiga judul esai yang pernah dimuat dalam surat kabar Sinar Harapan pada tahun 1971 dan 1972 itu sama dengan judul puisi-puisinya
Salah satu tokoh yang ikut serta mencetuskan dan menanda tangani Manifes Kebudayaan pada tahun 1963 ini juga menerjemahkan berbagai buku sastra dunia. Berbekal dengan pengetahuan dan penguasaannya berbagai bahasa asing, seperti Inggris, Belanda, Benggali, Tagalok, Jepang, dan Arab, Hartojo pun mampu menerjemahkan beberapa buku ke dalam bahasa Indonesia, antara lain:
(1) Tukang Kebun (sajak-sajak romantik Rabindranath Tagore, pujangga terbesar dari India, 1976)
(2) Kubur Terhormat bagi Pelaut (kumpulan sajak J.J. Slauerhoff, 1977)
(3) Rahasia Hati (novel Jepang karya Natsume Soseki, 1978)
 (4) Musyawarah Burung-Burung (prosa liris dari Timur Tengah karya Faridu’d-Din Attar, 1983)
 (5) Tokoh-Tokoh Munafik (karya pengarang Filipina, F. Sionel Jose, 1981) dan
 (6) Puisi Arab Modern (beberapa puisi dari penyair Bahrain, Saudi Arabia, Aden, Irak, Suriah, Lebanon, Pakistan, Mesir, Libia, Tunisia, dan Marokko, 1984).

Buku-buku hasil terjemahan Hartojo Andangdjaja itu pada umumnya diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya atas prakarsa Ajip Rosidi. Buku-buku sastra hasil terjemahan Hartojo membuka cakrawala baru dalam khazanah sastra terjemahan di Indonesia. Sambutan khalayak pembaca sastra di Indonesia pun sangat antusias dan positif dengan ditandai buku-buku tersebut dapat terbit kembali dan cetak ulang.

Beberapa Puisi Hartoyo Andangjaya


Perempuan-Perempuan Perkasa

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa






Dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya

Apakah yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdian kepadamu

Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidup di rumah tangga

Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
- horison yang selalu biru bagiku -
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua







Rakyat

hadiah di hari krida
buat siswa-siswa SMA Negeri
Simpang Empat, Pasaman
Rakyat ialah kita
jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang beringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa


















Selasa, 05 April 2011

morfologi dan leksikologi

MORFOLOGI

MORFOLOGI adalah bagian dari ilmu bahasa yang membiarakan atau mempelajari seluk-beluk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta  fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungi semantic

Morfologi dan leksikologi
Leksikologi  mempelajari seluk beluk kata ialah mempelajari perbendaharaan kata  dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh maayarakat pemakai bahasa. Misalnya kata masak yang mempunyai beberapa arti dalam pemakaiannya dalam kalimat
Contoh:..
1.      Sudah sampai tua hingga harus dipetik, di makan : Misalnya tentang buah yang masak di pohon
2.      Sudah jadi ( tentang masakan) Misalnya meskipun sudah beberapa jam direbus , belum masak juga ubi ini
3.      Sudah selesai, sudah dipikirkan. Misalnya adonan ini belum masak, bangsa kita dianggapnya belum masak
4.      Mengolah, membuat panganan. Misalnya masak kue lapis

Perbedaan Morfologi dan leksikologi
Adalah bahwa morfologi mempelajari arti yang timbul sebagai akibat peritiwa gramatik, biaa die but gramatik (grammatical meaning) atau makna sedangkan lekikologi mempelajari arti yang lebih kurang tetap yang terkandung dalam kata. Yang lazim disebut leksikal (lexical meaning)
Contoh:..
Rumah = berumah
Di samping  kata rumah terdapat juga kata berumah di mana  keduanya sama-sama memiliki arti leksikal
Rumah berarti “ bangunan untuk tempat tinggal”, bngunan pada umumnya
Berumah berarti “ mempunyai rumah, diam, tinggal”
Arti leksial dan pemakaian kata tersebut dibiarakan dalam leksikologi, sedangkan dalam morfologi dibicarakan perubahan bentuknya dari rumah menjadi berumah

Senin, 04 April 2011

ROKOK(DEFENISI, KANDUNGAN DAN PENGARUH BAGI KESEHATAN)

ROKOK
A.       Defenisi Rokok
Rokok adalah hasil olahan dari tembakau yang di aah lalu di bungku silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm
Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang secuil itu terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang di sekitar perokok yang bukan perokok
Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.

B.        Kandungan Rokok
Rokok mengandung lebih dari 4000 zat-zat dimana 2000 diantaranya mengandung sangat beracun dan terdapat 43 zat yang dapat menngakibatkan kanker apa bila dikonsumsi terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama
Adapun zat-zat berbahaya tersebut antara lain
ACROLEIN : zat berbentuk cair tidak berwarna diperoleh dengan mengambil cairan dari glyceril atau dengan mengeringkannya. Pada dasarnya zat ini mengandung alkohol yang pasti sangat mengganggu kesehatan.
KARBON MONOXIDA:gas yang tidak berbau. Yang dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat karbon. Jika karbon monoxida ini masuk ke dalam tubuh dan dibawa oleh hemoglobin ke dalam otot-otot tubuh. Satu molekul hemoglobin dapat membawa empat molekul oksigen. Apabila didalam hemoglobin itu terdapat karbon monoxida, berakibat seseorang akan kekurangan oksigen.

NIKOTIN : cairan berminyak tidak berwarna. Zat ini bisa menghambat rasa lapar. Jadi menyebabkan seseorang merasa tidak lapar karena mengisap rokok.
 AMMONIA : gas yang tidak berwarna, terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Memiliki bau yang sangat tajam dan merangsang. Zat ini sangat cepat memasuki sel-sel tubuh dan kalau disuntikkan sedikit saja pada aliran darah akan membuat pingsan atau koma.
FORMIC ACID : cairan tidak berwarna, tajam baunya, bisa bergerak bebas dan dapat membuat lepuh.
HYDROGEN CYANIDE : gas tidak berwarna, tidak berbau dan tidak ada rasa. Zat ini paling ringan dan mudah terbakar. Cyanide mengandung racun berbahaya dan jika dimasukkan langsung ke dalam tubuh akan berakibat kematian.
NITROUS OXIDE : gas tidak berwarna dan jika diisap dapat menyebabkan hilangnya pertimbangan dan membuat rasa sakit. Zat ini awalnya adalah untuk zat pembius pada saat operasi.
FORMALDEHYDE : gas tidak berwarna dan berbau tajam. Gas ini bersifat pengawet dan pembasmi hama.
PHENOL: zat ini terdiri dari campuran kristal yang dihasilkan dari distilasi zat-zat organik misalnya kayu dan arang. Phenol bisa terikat didalam protein dan menghalangi kerja enzyme.
ACETOL: zat ini adalah hasil dari pemanasan aldehyde dan menguap dengan alkohol.  HYDROGEN SULFIDE : gas yang mudah terbakar dan berbau keras. Zat ini menghalangi oxidasi enxym (zat besi berisi pigmen).
PYRIDINE : cairan tidak berwarna dan berbau tajam. Zat ini mampu mengubah alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama.
METHYL CHLORIDE : merupakan campuran zat-zat bervalensa satu atas mana hidrogen dan karbon sebagai unsur utama. Zat ini merupakan compound organis yang sangat beracun dan uapnya bersifat sama dengan pembius.  
METHANOL : cairan ringan yang mudah menguap dan terbakar. Jika diminum dan diisap dapat berakibat pada kebutaan dan kematian.  
TAR : cairan kental berwarna coklat tua atau hitam didapatkan dengan cara distilasi kayu dan arang juga dari getah tembakau. Zat inilah yang menyebabkan kanker paru-paru.

C.        Jenis-jenis perokok
·         Perokok aktif : mereka yang telah terbiasa dan nyata menghisab langsung rokok .
·         Perokok pasif : mereka yang sebenarnya tidak merokok tetapi berada dekat dengan yang menghisap rokok maka seara terpaksa ikut juga menghisab asab rokok dan mendapat danpak buruk dari rokok tersebut.

D.       Pengaruh dari Asab Rokok
Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kanker (karsinogen). Bahkan bahan berbahaya dan racun dalam rokok tidak hanya mengakibatkan gangguan kesehatan pada orang yang merokok, namun juga kepada orang-orang di sekitarnya yang tidak merokok yang sebagian besar adalah bayi, anak-anak dan ibu-ibu yang terpaksa menjadi perokok pasif oleh karena ayah atau suami mereka merokok di rumah. Padahal perokok pasif mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita kanker paru-paru dan penyakit jantung ishkemia. Sedangkan pada janin, bayi dan anak-anak mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita kejadian berat badan lahir rendah, bronchitis dan pneumonia, infeksi rongga telinga dan asthma.


BAHAYA YANG MENGANCAM DIBALI ROKOK 
Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang secuil itu terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang di sekitar perokok yang bukan perokok.
1. Asap rokok mengandung kurang lebih 4000 bahan kimia yang 200 diantaranya beracun dan 43 jenis lainnya dapat menyebabkan kanker bagi tubuh. Beberapa zat yang sangat berbahaya yaitu tar, nikotin, karbon monoksida, dsb.
2. Asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan pemicu kanker di udara dan 50 kali mengandung bahan pengeiritasi mata dan pernapasan. Semakin pendek rokok semakin tinggi kadar racun yang siap melayang ke udara. Suatu tempat yang dipenuhi polusi asap rokok adalah tempat yang lebih berbahaya daripada polusi di jalanan raya yang macet.
3. Seseorang yang mencoba merokok biasanya akan ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit dilepaskan dalam kondisi apapun. Seorang perokok berat akan memilih merokok daripada makan jika uang yang dimilikinya terbatas.
4. Harga rokok yang mahal akan sangat memberatkan orang yang tergolong miskin, sehingga dana kesejahteraan dan kesehatan keluarganya sering dialihkan untuk membeli rokok. Rokok dengan merk terkenal biasanya dimiliki oleh perusahaan rokok asing yang berasal dari luar negeri, sehingga uang yang dibelanjakan perokok sebagaian akan lari ke luar negeri yang mengurangi devisa negara. Pabrik rokok yang mempekerjakan banyak buruh tidak akan mampu meningkatkan taraf hidup pegawainya, sehingga apabila pabrik rokok ditutup para buruh dapat dipekerjakan di tempat usaha lain yang lebih kreatif dan mendatangkan devisa.
5. Sebagian perokok biasanya akan mengajak orang lain yang belum merokok untuk merokok agar merasakan penderitaan yang sama dengannya, yaitu terjebak dalam ketagihan asap rokok yang jahat. Sebagian perokok juga ada yang secara sengaja merokok di tempat umum agar asap rokok yang dihembuskan dapat terhirup orang lain, sehingga orang lain akan terkena penyakit kanker.
6. Kegiatan yang merusak tubuh adalah perbuatan dosa, sehingga rokok dapat dikategorikan sebagai benda atau barang haram yang harus dihindari dan dijauhi sejauh mungkin. Ulama atau ahli agama yang merokok mungkin akan memiliki persepsi yang berbeda dalam hal ini.

pendidikan masyarakat

            Bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak atau orang lain yang belum dewasa, disebut pendidikan (pedagogik). Setelah itu pedagogik berarti suatu usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompopk orang lain menjadi dewasa atau tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi.
Dalam bentuk lain, pedagogik itu dipandang sebagai suatu proses atau aktifitas yang bertujuan agar tingkah laku manusia mengalami proses tersebut mendapat perubahan. Tingkah laku seseorang adalah setiap respons yang dapat dilihat atau diperlihatkan oleh orang lain

            Disamping itu pedagogik juga merupakan suatu ilmu, sehingga orang menyebutnya ilmu pedagogik. Ilmu pedagogik adalah ilmu yang membicarakan masalah atau persoalan-persoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya.
            Pedagogik termasuk ilmu yang sifatnya teoritis dan praktis. Oleh karena itu pedagogik banyak berhubungan dengan ilmu-ilmu lain seperti: ilmu sosial, ilmu psikologi, psikologi belajar, metodologi pengajaran, sosiologi, filsafat dan lainya.



Pendidikan masyarakat
            Setiap individu dalam masyarakat merupakan potensi yang harus dikembangkan untuk mendukung dan melancarkan kegiatan pembangunan dalam masyarakat tersebut. Manusia sebagai individu, sebagaimana kodratnya memiliki sifat baik maupun buruk. Sifat-sifat yang kurang baik inilah perlu dibina dan dirubah sehingga melahirkan sifat-sifat yang baik lalu dibina dan dikembangkan. Proses perubahan dan pembinaan tersebut disebut dengan pendidikan.
            Melalui pendidikan, manusia diharapkan menjadi individu yang mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk secara mandiri meningkatkan taraf hiudupnya baik lahir maupun bathin serta meningkatkan peranannya sebagai individu/pribadi, warga masyarakat, warga Negara dan sebagai khalifah-Nya.
            Masyarakat bila dilihat dari konsep sosiologi adalah sekumpulan manusia yang bertempat tinggal dalam suatu kawasan dan saling berinteraksi sesamanya untuk mencapai tujuan tertentu. Bila dilihat dalam konteks pendidikan, masyarakat adalah sekumpulan banyak orang dengan berbagai ragam kualitas diri mulai dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi.
Masyarakat merupakan lingkungan pendidikan yang ketiga setelah lingkungan pendidikan keluarga dan lingkungan pendidikan sekolah. Di dalam suatu masyarakat mudah sekali dijumpai keanekaragaman suku, agama, ras, agama, adat istiadat, dan budaya. Keanekaragaman tersebut merupakan anugerah dari Tuhan, di mana dalam Islam keanekaragaman tersebut merupakan rahmat dari Allah.
Hubungan baik dengan masyarakat diperlukan karena tidak ada seorangpun yang dapat hidup tanpa bantuan masyarakat. Lagi pula, hidup bermasyarakat sudah merupakan fitrah manusia. Dalam QS. Al-Hujurat : 13 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari lelaki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling kenal mengenal.
            Keprihatikan bangsa ini yang dilanda krisis multidimensi dalam berbagai aspek kehidupan menuntut peran pendidikan Islam sebagai benteng sekaligus mencetak generasi penerus untuk memperbaiki kondisi yang ada. Menjadi sangat wajar jika beban dari krisis ini seluruhnya dibebankan kepada pendidikan. Baiknya suatu bangsa bisa dilihat dari baiknya pendidikannya, majunya suatu bangsa juga dipengaruhi dari pendidikannya.
            Hal ini menunjukan, bahwa keberhasilan dari proses pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh pihak sekolah saja, tetapi peran keluarga dan masyarakat juga berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan. Berangkat dari hal inilah maka perlu diperhatikan lingkungan di luar sekolah, baik secara formal maupun non formal, bahkan informasi sekaligus. Harus ada upaya menciptakan lingkungan yang kondusif, yang mampu mengembangkan potensi masyarakat guna mewujudkan tujuan pendidikan yang disepakati bersama.
            Pengembangan pendidikan di Indonesia, hendaknya dilihat sebagai suatu proses kelangsungan peradaban bangsa, maka faktor-faktor psiko sosial budaya perlu diikutsertakan dalam merancang pendidikan, dan perlu diciptakan situasi yang kondusif dalam pembelajaran. Tranformasi sosial psikologis dan budaya adalah suatu keniscayaan yang dihadapai bangsa ini, tetapi hal itu bisa dikendalaikan, khususnya dalam sektor pendidikan. Transformasi ini memunculkan tatanan baru dalam masyarakat, untuk itu perlu pendekatan sejenis sosial and culture engenering yang mampu mengendalaikan perubahan dan pergeseran ke arah yang diinginkan.
            Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengsi tantangan kehidupan yang berubah-ubah.
            Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidik memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan.
            Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Adapun pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutullan mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi Peluang dan kebebasan untuk merddesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.
Meskipun bersekolah, ke masyarakatlah peserta didik akan kembali. Tentu, mental yang dibawa untuk kembali ke masyarakat adalah mental yang diperoleh saat pendidikan formal. Pendidikan formal ini pun dipengaruhi masyarakat.
            Dengan kata sederhana, saat sekolah, seorang anak akan dididik oleh pendidik dari sekolah dan masyarakat. Pulang sekolah, peserta didik akan sepenuhnya dididik masyarakat. Saat lulus dari sekolah, masyarakatlah yang menjadi tempat seorang peserta didik kembali.
            Peserta didik mestinya bertanggung jawab atas kelakuan salah yang telah dilakukan. Jika masyarakat melakukan peran mendukung pendidikan, masyarakat mestinya mendukung terhadap proses pendidikan. Jika tidak mampu menyelenggarakan pendidikan atau menasihati seorang peserta didik yang sembunyi di rumah, lebih baik dilaporkan ke pendidik formalnya.
            Contoh yang diberikan masyarakat kembali menjadi sesuatu yang sangat penting bagi peserta didik. Kebiasaan yang dilakukan masyarakat. Baik berupa suatu perilaku kebiasaan setempat sampai pada kepercayaan lokal, seolah menjadi suatu yang sangat dipentingkan dan dinomorsatukan. Apalagi, jika ada ancaman hukuman sosial bagi masyarakat yang tidak melaksanakan.
            Saat seperti itulah pendidikan yang ditempuh peserta didik seolah menjadi tidak berguna sama sekali. Masyarakat, tempat hidup peserta didik, seolah hanya membenarkan kebiasaan setempat dengan menampik semua kebiasaan yang datang meskipun itu benar adanya.
            Misalnya, kebiasaan meminum minuman keras. Di sekolah selalu diajari untuk tidak menenggak minuman keras. Ketika sampai pada kehidupan bermasyarakat, larangan dari sekolah hanya menjadi pelajaran sekolah yang butuh dihafal karena semua lapisan masyarakat, tempat peserta didik tumbuh, menenggak minuman keras.
            Tentulah akan sangat jelas ketika kita bandingkan kehidupan yang ada di desa dan di kota. Mengenai kepedulian kepada masyarakat. Di kota, sama sekali tidak ada kepedulian dan individual. Apa yang dilakukan oleh tetangga atau anak tetangga tentu bukan menjadi urusan dan tidak perlu dihiraukan karena merasa bukan menjadi urusannya.
 Lain hal dengan masyarakat pedesaan yang masih mementingkan rasa kepedulian sesama. Tidak jarang, anak tetangga dinasihati jika melakukan kesalahan di hadapannya. Contoh masyarakat pedesaan masih mementingkan rasa kebersamaan dan kegotongroyongan lebih mudah ditiru.
            Satu hal yang mesti kita catat di benak sekarang ini adalah peran masyarakat terhadap pendidikan sangatlah penting. Di masyarakat mana seorang anak itu tumbuh, sebenarnya di sanalah mental masyarakat itu akan diwarisi secara otomastis.