Senin, 04 April 2011

pendidikan masyarakat

            Bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak atau orang lain yang belum dewasa, disebut pendidikan (pedagogik). Setelah itu pedagogik berarti suatu usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompopk orang lain menjadi dewasa atau tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi.
Dalam bentuk lain, pedagogik itu dipandang sebagai suatu proses atau aktifitas yang bertujuan agar tingkah laku manusia mengalami proses tersebut mendapat perubahan. Tingkah laku seseorang adalah setiap respons yang dapat dilihat atau diperlihatkan oleh orang lain

            Disamping itu pedagogik juga merupakan suatu ilmu, sehingga orang menyebutnya ilmu pedagogik. Ilmu pedagogik adalah ilmu yang membicarakan masalah atau persoalan-persoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan sebagainya.
            Pedagogik termasuk ilmu yang sifatnya teoritis dan praktis. Oleh karena itu pedagogik banyak berhubungan dengan ilmu-ilmu lain seperti: ilmu sosial, ilmu psikologi, psikologi belajar, metodologi pengajaran, sosiologi, filsafat dan lainya.



Pendidikan masyarakat
            Setiap individu dalam masyarakat merupakan potensi yang harus dikembangkan untuk mendukung dan melancarkan kegiatan pembangunan dalam masyarakat tersebut. Manusia sebagai individu, sebagaimana kodratnya memiliki sifat baik maupun buruk. Sifat-sifat yang kurang baik inilah perlu dibina dan dirubah sehingga melahirkan sifat-sifat yang baik lalu dibina dan dikembangkan. Proses perubahan dan pembinaan tersebut disebut dengan pendidikan.
            Melalui pendidikan, manusia diharapkan menjadi individu yang mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk secara mandiri meningkatkan taraf hiudupnya baik lahir maupun bathin serta meningkatkan peranannya sebagai individu/pribadi, warga masyarakat, warga Negara dan sebagai khalifah-Nya.
            Masyarakat bila dilihat dari konsep sosiologi adalah sekumpulan manusia yang bertempat tinggal dalam suatu kawasan dan saling berinteraksi sesamanya untuk mencapai tujuan tertentu. Bila dilihat dalam konteks pendidikan, masyarakat adalah sekumpulan banyak orang dengan berbagai ragam kualitas diri mulai dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi.
Masyarakat merupakan lingkungan pendidikan yang ketiga setelah lingkungan pendidikan keluarga dan lingkungan pendidikan sekolah. Di dalam suatu masyarakat mudah sekali dijumpai keanekaragaman suku, agama, ras, agama, adat istiadat, dan budaya. Keanekaragaman tersebut merupakan anugerah dari Tuhan, di mana dalam Islam keanekaragaman tersebut merupakan rahmat dari Allah.
Hubungan baik dengan masyarakat diperlukan karena tidak ada seorangpun yang dapat hidup tanpa bantuan masyarakat. Lagi pula, hidup bermasyarakat sudah merupakan fitrah manusia. Dalam QS. Al-Hujurat : 13 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari lelaki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling kenal mengenal.
            Keprihatikan bangsa ini yang dilanda krisis multidimensi dalam berbagai aspek kehidupan menuntut peran pendidikan Islam sebagai benteng sekaligus mencetak generasi penerus untuk memperbaiki kondisi yang ada. Menjadi sangat wajar jika beban dari krisis ini seluruhnya dibebankan kepada pendidikan. Baiknya suatu bangsa bisa dilihat dari baiknya pendidikannya, majunya suatu bangsa juga dipengaruhi dari pendidikannya.
            Hal ini menunjukan, bahwa keberhasilan dari proses pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh pihak sekolah saja, tetapi peran keluarga dan masyarakat juga berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan. Berangkat dari hal inilah maka perlu diperhatikan lingkungan di luar sekolah, baik secara formal maupun non formal, bahkan informasi sekaligus. Harus ada upaya menciptakan lingkungan yang kondusif, yang mampu mengembangkan potensi masyarakat guna mewujudkan tujuan pendidikan yang disepakati bersama.
            Pengembangan pendidikan di Indonesia, hendaknya dilihat sebagai suatu proses kelangsungan peradaban bangsa, maka faktor-faktor psiko sosial budaya perlu diikutsertakan dalam merancang pendidikan, dan perlu diciptakan situasi yang kondusif dalam pembelajaran. Tranformasi sosial psikologis dan budaya adalah suatu keniscayaan yang dihadapai bangsa ini, tetapi hal itu bisa dikendalaikan, khususnya dalam sektor pendidikan. Transformasi ini memunculkan tatanan baru dalam masyarakat, untuk itu perlu pendekatan sejenis sosial and culture engenering yang mampu mengendalaikan perubahan dan pergeseran ke arah yang diinginkan.
            Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengsi tantangan kehidupan yang berubah-ubah.
            Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidik memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat. pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan.
            Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Adapun pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutullan mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi Peluang dan kebebasan untuk merddesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.
Meskipun bersekolah, ke masyarakatlah peserta didik akan kembali. Tentu, mental yang dibawa untuk kembali ke masyarakat adalah mental yang diperoleh saat pendidikan formal. Pendidikan formal ini pun dipengaruhi masyarakat.
            Dengan kata sederhana, saat sekolah, seorang anak akan dididik oleh pendidik dari sekolah dan masyarakat. Pulang sekolah, peserta didik akan sepenuhnya dididik masyarakat. Saat lulus dari sekolah, masyarakatlah yang menjadi tempat seorang peserta didik kembali.
            Peserta didik mestinya bertanggung jawab atas kelakuan salah yang telah dilakukan. Jika masyarakat melakukan peran mendukung pendidikan, masyarakat mestinya mendukung terhadap proses pendidikan. Jika tidak mampu menyelenggarakan pendidikan atau menasihati seorang peserta didik yang sembunyi di rumah, lebih baik dilaporkan ke pendidik formalnya.
            Contoh yang diberikan masyarakat kembali menjadi sesuatu yang sangat penting bagi peserta didik. Kebiasaan yang dilakukan masyarakat. Baik berupa suatu perilaku kebiasaan setempat sampai pada kepercayaan lokal, seolah menjadi suatu yang sangat dipentingkan dan dinomorsatukan. Apalagi, jika ada ancaman hukuman sosial bagi masyarakat yang tidak melaksanakan.
            Saat seperti itulah pendidikan yang ditempuh peserta didik seolah menjadi tidak berguna sama sekali. Masyarakat, tempat hidup peserta didik, seolah hanya membenarkan kebiasaan setempat dengan menampik semua kebiasaan yang datang meskipun itu benar adanya.
            Misalnya, kebiasaan meminum minuman keras. Di sekolah selalu diajari untuk tidak menenggak minuman keras. Ketika sampai pada kehidupan bermasyarakat, larangan dari sekolah hanya menjadi pelajaran sekolah yang butuh dihafal karena semua lapisan masyarakat, tempat peserta didik tumbuh, menenggak minuman keras.
            Tentulah akan sangat jelas ketika kita bandingkan kehidupan yang ada di desa dan di kota. Mengenai kepedulian kepada masyarakat. Di kota, sama sekali tidak ada kepedulian dan individual. Apa yang dilakukan oleh tetangga atau anak tetangga tentu bukan menjadi urusan dan tidak perlu dihiraukan karena merasa bukan menjadi urusannya.
 Lain hal dengan masyarakat pedesaan yang masih mementingkan rasa kepedulian sesama. Tidak jarang, anak tetangga dinasihati jika melakukan kesalahan di hadapannya. Contoh masyarakat pedesaan masih mementingkan rasa kebersamaan dan kegotongroyongan lebih mudah ditiru.
            Satu hal yang mesti kita catat di benak sekarang ini adalah peran masyarakat terhadap pendidikan sangatlah penting. Di masyarakat mana seorang anak itu tumbuh, sebenarnya di sanalah mental masyarakat itu akan diwarisi secara otomastis. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar